Manusia Dan Kebahagiaannya Yang Rapuh

Bismillah,

Selamat pagi teman-teman, gw doakan semoga semua teman-teman yang baca tulisan ini Allah berikan kebahagian.

Di kehidupan dunia ini manusia adalah entitas yang senantiasa menginginkan kebahagiaan dalam hidupnya, tidak peduli siapapun dia, apapun agamanya, berasal dari kasta sosial apapun, apapun kondisi ekonominya, manusia selalu ingin memiliki kehidupan yang bahagia.

Kalo kita lihat di KBBI, arti bahagia adalah "keadaan atau perasaan senang dan tenteram (bebas dari segala yang menyusahkan)". dan makna kebahagian ini akan berbeda pada setiap orang. Ada yang merasa bahagia ketika memiliki materi yang dia impikan, atau ada juga yang merasa bahagia ketika bisa berkumpul dengan orang yang dicintainya, atau bahkan ada juga orang yang merasa bahagia dengan kesendirian. terlepas dari semua itu, secara fitrah semua manusia pasti menginginkan kebahagiaan dalam hidupnya.

Jika semua manusia menginginkan kebahagian dan sudah pasti juga manusia pasti akan berusaha mendapatkannya, kenapa masih banyak sekali penderitaan di kehidupan dunia ini?

Untuk bisa menjawab pertanyaan ini gw pengen ngajak teman-teman mikirin sesuai dengan sudut pandang gw terkait masalah ini, jadi yang akan teman-teman baca adalah murni sudut pandang gw yang subyektif, dan subyektifitas pikiran gw ini jelas berlandaskan kepada keyakinan agama yang gw anut, kalo lu ga sepakat silahkan.

Teman-teman...gw akan paparkan hakikat kehidupan ini menurut Allah subhanahu wa ta'ala, Sang Pencipta kehidupan ini.

Di dalam Al Qur'an surat Al Hadid ayat ke 20, Allah berfirman,

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak. Seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. 

Allah subhanahu wa ta'ala menjelaskan kepada kita bahwa hakikat kehidupan ini adalah permainan dan sesuatu yang melalaikan. dan kesenangan di dalamnya--atau mari kita sebut kesenangan ini dengan kebahagian--adalah bagaikan tanaman subur yang membuat si penanam kagum, tapi kemudian tanaman itu hancur dan itu akan membuat si penanam sedih.

Teman-teman, ayat Al Qur'an di surat Al Hadid ayat 20 ini adalah ayat yang muhkam yang artinya adalah ayat ini adalah ayat yang jelas yang mudah difahami. dengan sedikit berpikir kita akan memahami bahwa Allah ingin memberitahu kita bahwa kebahagian di dunia itu sebentar, setelah kebahagian akan muncul kesedihan. klo gitu berarti Allah menciptakan manusia di kehidupan dunia ini untuk menderita? sementara ini mari kita jawab dengan jawaban "iya", ya Allah menciptakan kita untuk menderita di kehidupan ini.

kemudian Jibril 'alaihi salam pernah memberikan nasihat kepada kekasih kita yang mulia, Rasulullah Muhammad shalallahu 'alaihi wasalam, Jibril berpesan kepada beliau,

أتاني جبريلُ ، فقال : يا محمدُ عِشْ ما شئتَ فإنك ميِّتٌ ، وأحبِبْ ما شئتَ ، فإنك مُفارِقُه ، واعملْ ما شئتَ فإنك مَجزِيٌّ به ، واعلمْ أنَّ شرَفَ المؤمنِ قيامُه بالَّليلِ ، وعِزَّه استغناؤه عن الناسِ

Jibril ‘alaihissalam pernah datang kepadaku seraya berkata, ‘Hai Muhammad! Hiduplah sesukamu, sesungguhnya engkau akan menjadi mayit. Cintailah siapa saja yang engkau senangi, sesungguhnya engkau pasti akan berpisah dengannya. Dan beramallah semaumu, sesungguhnya engkau akan menuai balasannya. Dan ketahuilah bahwa kemuliaan seorang mukmin terletak pada salat malam dan kehormatannya adalah rasa kecukupan dari manusia.’” (HR. Thabrani dan dinilai hasan oleh Syekh Al-Albani rahimahullah dalam Silsilah Ahadits Shahihah, no. 831).

Di dalam nasihat Jibril ini disebutkan perintah untuk mencintai. sebagaimana yang kita sepakati bersama, bahwa rasa cinta adalah salah satu bentuk kebahagiaan dalam kehidupan ini. Kebahagian terkadang muncul seiring dengan cinta. bahkan ada sebagian manusia yang rela mengorbankan materi yang ia miliki untuk mendapatkan cinta yang ia dambakan. maka bagi sebagian manusia kebahagian karena cinta bisa mengalahkan kebahagiaan karena materi. namun kemudian setelah Jibril menyampaikan bahwa kita boleh mencintai siapapun yang kita kehendaki Jibril mengingatkan akan momen setelah kita mendapatkan cinta itu, yaitu perpisahan. Dan perpisahan adalah salah satu penderitaan, bahkan rasa menderita karena perpisahan jauh lebih menyakitkan daripada kehilangan materi. kalo ga percaya tanyakan hal ini kepada mereka yang telah kehilangan Ibu dan Ayahnya, atau bahkan istri, anak dan orang-orang yang sangat ia cintai dalam hidupnya.

Teman-teman, gw pikir cukuplah ayat surat Al Hadid dan nasihat Jibril tadi memberikan gambaran kepada kita terkait dengan hakikat kebahagiaan dalam kehidupan ini.

kemudian, coba kita refleksikan dengan kehidupan kita sehari-hari atau kehidupan orang sekitar kita, maka akan kita akui bahwa kita dan orang-orang itu menjalani kehidupan sehari-hari karena berusaha mewujudkan kebahagian ini, tentu saja sekali lagi kebahagiaan ini berbeda-beda setiap orangnya. Maka dari semua usaha yang kita tersebut terkadang kita dapatkan kebahagiaan itu, tapi seberapa lama kah rasa bahagia itu kita rasakan? dan apa akhir yang kita rasakan? semua akan berakhir dengan kesedihan. Rumah impian yang kita dapatkan pasti akan hancur, kendaraan yang kita impikan dan rawat akan hancur, bahkan orang yang sangat kita cintai, ibu, ayah, istri dan anak-anak semua akan berpisah dengan kita.

Teman-teman, setelah penjelasan tadi gw berharap teman-teman bisa memahami hakikat kebahagiaan ini. Dan di paragraf ini gw pengen sampaikan bahwa kebahagiaan itu ada tapi dia sangat rapuh, atau dengan bahasa yang kasar gw bilang bahwa kehidupan ini secara umum isinya adalah penderitaan. bukankah hakikat sesuatu itu dinilai pada kondisi akhirnya.

Kalo memang manusia itu Allah ciptakan untuk senantiasa merasakan penderitaan di setiap akhirnya, untuk apa kita hidup? untuk apa segala usaha yang kita curahkan ini?

Teman-teman...Allah telah menciptakan satu jenis kebahagian, kebahagian ini berbeda dengan kebahagiaan di kehidupan ini, kebahagiaan ini adalah kebahagiaan yang kekal, kekal itu artinya adalah "tetap (tidak berubah, tidak bergeser, dan sebagainya) selama-lamanya; abadi; lestari:". Tapi teman-teman, kebahagiaan ini tidak tersedia di dunia, Allah menciptakan kebahagiaan ini untuk kita rasakan di kehidupan kita setelah kematian. dan hakikat kebahagiaan dan penderitaan yang kita rasakan di kehidupan ini adalah ujian.

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman di dalam surat Al Ankabut ayat 2 dan 3,

أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتْرَكُوٓا۟ أَن يَقُولُوٓا۟ ءَامَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ  () وَلَقَدْ فَتَنَّا ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ صَدَقُوا۟ وَلَيَعْلَمَنَّ ٱلْكَـٰذِبِينَ 

"Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, "Kami telah beriman," dan mereka tidak diuji?  Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta."

Teman-teman, dari surat Al Ankabut ayat 2 dan 3 tadi kita jadi tahu persis bahwa dunia ini tempat ujian, dan Allah telah menjanjikan ujian ini dan ujian ini adalah sebuah kepastian. maka ketika kita sadar betul bahwa hakikat hidup ini adalah ujian, bahagia dan sedih ada bentuk ujian maka kita seharusnya tidak peduli lagi apa yang akan terjadi esok hari, apakah bahagia atau sedih yang akan kita dapatkan, karena hakikat keduanya sama saja, yaitu sama-sama ujian dari Allah.

Pertanyaan terakhir, untuk apa Allah menguji kita?

Ujian-ujian hidup yang bikin kita menderita ini bukanlah sesuatu yang tidak ada tujuannya, Allah mendesain kehidupan ini dengan ke-Maha Sempurnaan-Nya dan juga Maha Adil-Nya. dan tujuan dari semua ujian ini adalah untuk menilai kita apakah kita layak untuk mendapatkan kebahagian kekal yang telah Allah siapkan ataukah tidak. Ketika kita berhasil dalam melewati ujian-ujian ini maka kita akan dapatkan kebahagiaan itu, dan ketika kita gagal, maka bukan hanya tidak akan kita dapatkan kebahagian kekal tadi, bahkan ada azab yang telah menunggu, bagi mereka yang kufur dan melampaui batas.


بَلْ تُؤْثِرُونَ ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَا ()  وَٱلْـَٔاخِرَةُ خَيْرٌۭ وَأَبْقَىٰٓ 

"Sedangkan kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan dunia, Yang Maha Tinggi () padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal."

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مَا لَكُمْ إِذَا قِيلَ لَكُمُ ٱنفِرُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ ٱثَّاقَلْتُمْ إِلَى ٱلْأَرْضِ ۚ أَرَضِيتُم بِٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا مِنَ ٱلْـَٔاخِرَةِ ۚ فَمَا مَتَـٰعُ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا فِى ٱلْـَٔاخِرَةِ إِلَّا قَلِيلٌ ٣٨

"Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa apabila dikatakan kepada kamu, "Berangkatlah (untuk berperang) di jalan Allah," kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu lebih menyenangi kehidupan dunia daripada kehidupan akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit."

كُلُّ نَفْسٍۢ ذَآئِقَةُ ٱلْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ ٱلْقِيَـٰمَةِ ۖ فَمَن زُحْزِحَ عَنِ ٱلنَّارِ وَأُدْخِلَ ٱلْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَآ إِلَّا مَتَـٰعُ ٱلْغُرُورِ ١٨٥

"Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya."


Wallahu a'lam...

Salman Alfarisi, S.Pd.I





Komentar

Postingan Populer